January 23, 2018

Kekerasan terhadap perempuan termasuk juga terhadap remaja yaitu suatu perbuatan yang berdasarkan pembedaan berbasis gender yang berakibatkan kesengsaraan atau penderitaan terhadap perempuan secara fisik, seksual maupun psikologis. Hal tersebut termasuk ancaman yang terjadinya perbuatan tersebut, seperti pemaksaan, perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruangan publik maupun dalam kehidupan pribadinya.

Sedangkan masa remaja adalah masa yang penuh dengan gejolak baik secara fisiologis maupun psikologis, yang tentunya memang membuat dampak terhadap perkembangan psikososial remaja tersebut. Secara teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, remaja seharusnya berusaha mencari identitas yang positif melalui orang-orang yang mereka kenal atau orang-orang yang ada di sekelilingnya, dengan demikian mereka akan mengambil nilai-nilai yang baik untuk mereka terapkan dalam dirinya.

Pada perubahan hormon masa remaja mengakibatkan remaja mengalami perubahan fisik secara primer dan sekunder. Seperti perubahan pada payudara bagi perempuan dan mengalami menstruasi, pada laki-laki tumbuhnya jakun dan mengalami mimpi basah. Oleh karena itu pada perubahan tersebut akan muncul dorongan untuk melakukan seksual yang tentunya memerlukan kematangan diri yang optimal untuk dapat mengelolahnya, sehingga dapat di salurkan melalui berbagai kegiatan positif dan sebaliknya.

Konflik yang berkaitan dengan dorongan seksual dan penyaluran yang tidak tepat, akan dapat di alami oleh setiap orang apa lagi bagi remaja yang masih dalam masa perkembangan. Terus apa saja jenis-jenis terhadap kekerasan seksual? Yuk mari kita simak dibawah ini..

Jenis-jenis Pelecehan Seksual

Menurut kategorinya, pelecehan seksual di bagi menjadi 5 jenis, yaitu:

  • Pelecehan Gender: Pernyataan dan perilaku seksis yang menghina atau merendahkan wanita. Contohnya termasuk komentar yang menghina, gambar atau tulisan yang merendahkan wanita, lelucon cabul atau humor tentang seks atau wanita pada umumnya.
  • Perilaku Menggoda: Perilaku seksual yang menyinggung, tidak pantas, dan tidak di inginkan. Contohnya termasuk mengulangi ajakan seksual yang tidak di inginkan, memaksa untuk makan malam, minum, atau kencan, mengirimkan surat dan panggilan telepon yang tidak henti-henti meski sudah di tolak, serta ajakan lainnya.
  • Penyuapan Seksual: Permintaan aktivitas seksual atau perilaku terkait seks lainnya dengan janji imbalan. Rencana mungkin di lakukan secara terang-terangan atau secara halus.
  • Pemaksaan Seksual: Pemaksaan aktivitas seksual atau perilaku terkait seks lainnya dengan ancaman hukuman. Contohnya seperti evaluasi kerja yang negatif, pencabutan promosi kerja, dan ancaman pembunuhan.
  • Pelanggaran Seksual: Pelanggaran seksual berat (seperti menyentuh, merasakan, atau meraih secara paksa) atau penyerangan seksual.

Menurut perilakunya, pelecehan seksual di bagi menjadi 10 jenis, yaitu:

  1. Komentar seksual tentang tubuh Anda
  2. Ajakan seksual
  3. Sentuhan seksual
  4. Grafiti seksual
  5. Isyarat seksual
  6. Lelucon kotor seksual
  7. Menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain
  8. Menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain
  9. Berbicara tentang kegiatan seksual sendiri di depan orang lain
  10. Menampilkan gambar, cerita, atau benda seksual

Jenis-jenis Kekerasan Seksual

Komnas Perempuan mengenali 14 bentuk kekerasan seksual, yaitu:

1. Perkosaan

Serangan yang di arahkan pada bagian seksual dan seksualitas seseorang dengan menggunakan organ seksual (penis) ke organ seksual (vagina), anus atau mulut, atau dengan menggunakan bagian tubuh lainnya yang bukan organ seksual atau pun benda-benda lainnya. Serangan di lakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, ataupun dengan pemaksaan sehingga mengakibatkan rasa takut akan kekerasan, di bawah paksaan, penahanan, tekanan psikologis, atau penyalahgunaan kekuasaan atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang koersif, atau serangan atas seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan yang sesungguhnya.

2. Pelecehan Seksual

Tindakan seksual yang di sampaikan melalui kontak fisik maupun non fisik yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang, termasuk dengan menggunakan siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakitbatkan rasa tidak nyaman, tersinggung merasa di rendahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

3. Eskploitasi Seksual

Aksi atau percobaan penyalahgunaan kekuatan yang berbeda atau kepercayaan, untuk tujuan seksual namun tidak terbatas untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang, sosial maupun politik dari eksploitasi seksual terhadap orang lain. Termasuk di dalamnya adalah tindakan mengiming-imingi perkawinan untuk memperoleh layanan seksual dari perempuan, yang kerap disebut oleh lembaga pengada layanan bagi perempuan korban kekerasan sebagai kasus “ingkar janji”. Iming-iming ini menggunakan cara pikir dalam masyarakat yang mengaitkan posisi perempuan dengan status perkawinannya sehingga perempuan merasa tidak memiliki daya tawar, kecuali dengan mengikuti kehendak pelaku, agar ia di nikahi.

4. Penyiksaan Seksual

Perbuatan yang secara khusus menyerang organ dan seksualitas perempuan yang di lakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani, rohani, maupun seksual pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan darinya, atau dari orang ketiga, dengan menguhukumnya atas suatu perbuatan yang telah terjadi atau di duga yang di lakukan olehnya ataupun oleh orang ke tiga, untuk mengancam atau memaksanya atau orang ketiga dan untuk suatu alasan yang di dasarkan pada diskriminasi atas alasan apapun. Apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut di timbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau sepengetahuan pejabat pemerintahan.

5. Perbudakan seksual

Sebuah tindakan penggunaan sebagian atau segenap kekuasaan yang melekat pada “Hak Kepemilikian” terhadap seseorang, termasuk akses seksual melalui pemerkosaan atau bentuk-bentuk lain kekerasan seksual. Perbudakan seksual juga mencakup situasi-situasi di mana perempuan dewasa dan anak-anak di paksa untuk menikah, memberikan pelayanan rumah tangga atau bentuk kerja paksa yang pada akhirnya melibatkan kegiatan seksual paksa termasuk perkosaan oleh penyekapnya.

6. Intimidasi 

Tindakan yang menyerang seksualitas untuk menimbulkan rasa takut atau penderitaan psikis terhadap perempuan. Serangan dan intimidasi seksual di sampaikan secara langsung maupun tidak langsung melalui surat, sms, email, dan lain-lain.

7. Prostitusi Paksa

Situasi di mana perempuan di kondisikan dengan tipu daya, ancaman maupun kekerasan untuk menjadi pekerja seks. Pengondisian ini dapat terjadi pada masa rekrutmen maupun untuk membuat perempuan tersebut tidak berdaya untuk melepaskan dirinya dari prostitusi, misalnya dengan penyekapan, penjeratan hutang, atau ancaman kekerasan. Prostitusi paksa memiliki beberapa kemiripan, namun tidak selalu sama dengan perbudakan seksual atau dengan perdagangan orang untuk tujuan seksual.

8. Pemaksaan Kehamilan

Ketika perempuan melanjutkan kehamilan yang tidak dia kehendaki akibat adanya tekanan, ancaman, maupun paksaan dari pihak lain. Kondisi ini misalnya di alami oleh perempuan korban perkosaan yang tidak di berikan pilihan lain kecuali melanjutkan kehamilannya akibat perkosaan tersebut. Pemaksaan ini berbeda di mensi dengan kehamilan paksa dalam konteks kejahatan terhadap kemanusiaan, sebagaimana di rumuskan dalam Statuta Roma, yaitu pembatasan secara melawan hukum terhadap seorang perempuan untuk hamil secara paksa, dengan maksud untuk membuat komposisi etnis dari suatu populasi atau untuk melakukan pelanggaran hukum internasional lainnya.

9. Pemaksaan Aborsi

Pengguguran kandungan yang di lakukan karena adanya tekanan, ancaman, maupun paksaan dari pihak lain.

10. Pemaksaan Perkawinan

Situasi di mana perempuan terikat perkawinan di luar kehendaknya sendiri, termasuk di dalamnya situasi perempuan merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kehendak orangtuanya agar ia menikah, sekalipun bukan dengan orang yang ia inginkan atau dengan orang yang tidak ia kenali, untuk tujuan mengurangi beban ekonomi keluarga maupun tujuan lainnya.

Pemaksaan perkawinan juga mencakup situasi di mana perempuan di paksa menikah dengan orang lain agar dapat kembali pada suaminya setelah di nyatakan tiga talak dan situasi dimana perempuan terikat dalam perkawinannya sementara proses perceraian tidak dapat di langsungkan karena berbagai alasan baik dari pihak suami maupun otoritas lainnya. Tidak termasuk dalam perhitungan jumlah kasus, meskipun merupakan praktik kawin paksa.

11. Perdagangan Perempuan

Tindakan perekrutan, pangangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan hutang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atau orang lain tersebut, baik didalukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan prostitusi atau eskploitasi seksual lainnya.

12. Penghukuman Tidak Manusiawi 

Cara menghukum yang menyebabkan penderitaan, kesakitan, ketakutan, atau rasa malu yang luar biasa yang tidak bisa tidak termasuk dalam penyiksaan. Termasuk dalam penghukuman tidak manusiawi adalah hukuman cambuk dan hukuman yang merendahkan martabat manusia yang di tujukan bagi mereka yang di tuduh melanggar norman-norma kesusilaan.

14. Mendiskriminasi Perempuan

Kebiasaan berdimensi seksual yang di lakukan masyarakat, terkadang di topang dengan alasan agama dan atau budaya, yang dapat menimbulkan cidera secara fisik, psikologis, maupun seksual pada perempuan atau di lakukan untuk mengontrol seksualitas perempuan dalam perspektif yang merendahkan perempuan.

Apa Saja Contoh Kekerasan Seksual Secara Fisik Maupun Non Fisik?

  1. Kekerasan seksual pada anak secara fisik
  2. Menyentuh area intim atau kemaluan anak untuk memenuhi gairahnya
  3. Membuat anak menyentuh bagian privat atau kemaluan pelaku
  4. Membuat anak ikut bermain dalam permainan seksualnya
  5. Memasukkan sesuatu ke dalam kemaluan atau anus anak
  6. Kekerasan seksual pada anak non fisik
  7. Menunjukkan hal-hal yang bersifat pornografi pada anak, entah itu video, foto, atau gambar
  8. Menyuruh anak berpose tidak wajar
  9. Menyuruh anak untuk menonton berbagai hal yang berhubungan dengan seks
  10. Mengintip atau menontoni anak yang sedang mandi atau sedang berada di dalam toilet

Lalu, Bagaimana Mengetahui Kalau Anak Telah Mengalami Kekerasan Seksual?

Kekerasan seksual dalam bentuk apapun dapat menimbulkan trauma bagi para korbannya, terutama anak-anak. Tekanan yang ia dapat membuatnya tidak berani menceritakan kejadian yang ia alami, bahkan pada Anda sebagai orangtuanya. Hal ini membuat ia cenderung menarik diri dan menjadi pendiam. Untuk itu, Anda harus peka dan memerhatikan perubahan perilaku yang mungkin saja terjadi pada si kecil. lalu, apa saja tanda dari kekerasan seksual pada anak? Simak ulasan di bawah ini.

Tanda Awal Dari Kekerasan Seksual Yang Terjadi Pada Anak

  1. Sering punya mimpi buruk hingga mengalami masalah tidur
  2. Perilaku berubah, misalnya menggunakan mainan atau benda sebagai rangsangan seksual
  3. Menjadi sangat tertutup dan pendiam
  4. Dalam keadaan marah, emosinya akan sangat meledak dan tidak terkendali
  5. Menyebutkan kata-kata atau istilah yang tidak pantas, misalnya menyebutkan bagian-bagian tubuh genital dan tidak diketahui dari mana ia mengetahuinya
  6. Melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, seperti melukai dirinya dengan benda tajam
  7. Menceritakan teman barunya yang berusia lebih tua dan menyebutkan kalau ia mendapatkan banyak hadiah dari orang tersebut tanpa alasan yang jelas
  8. Tiba-tiba merasa ketakutan jika di ajak ke suatu tempat tertentu atau ketika bertemu dengan orang tertentu
    Anak mungkin menunjukkan tanda-tanda pemberontakan atau perilaku menantang
  9. Perubahan kebiasaan makan
  10. Anak mungkin mencoba untuk bunuh diri.

Jika anak Anda mengalami hal-hal seperti itu, sebaiknya dekati ia dan usahakan untuk membuatnya cerita apa yang terjadi pada dirinya. Meskipun memang tanda-tanda tersebut bisa saja terjadi ketika si kecil mengalami hal lain dalam hidupnya, seperti ketika menghadapi masalah perceraian orangtua, sedang berduka akibat ada anggota keluarga yang meninggal, atau sekadar memiliki masalah dengan temannya di sekolah.

Namun, tidak ada salahnya untuk Anda menggali terus informasi yang ada pada si kecil dan buat ia nyaman agar ia mau menceritakan apa yang ia rasakan saat itu. Selain tanda tersebut, ada beberapa tanda fisik dari kekerasan seksual pada anak yang harus Anda waspadai. Biasanya, tanda fisik ini dapat terlihat bila kekerasan seksual yang terjadi cukup parah atau bahkan telah di lakukan dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga dapat meninggalkan bekas pada tubuh si anak.

Tanda Fisik Akibat Kekerasan Seksual Pada Anak

  • Anak merasa sakit, terjadi perdarahan, atau keluar cairan dari kemaluan, anus, atau mulutnya
  • Merasa sakit yang berulang-ulang, setiap ia buang air kecil
  • Menjadi sering mengompol kembali
  • Nyeri atau kesulitan berjalan atau duduk
  • Terdapat darah di pakaian dalamnya
  • Memar di tempat-tempat yang tidak biasa, tanpa alasan jelas

Apa Saja Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Pelecehan Seksual?

1. Berbicara Secara Terus Terang

Dalam banyak kasus pelecehan seksual, terutama yang melibatkan lingkungan kerja, pelaku pelecehan seksual biasanya tidak menyadari bahwa perilaku mereka adalah ofensif. Jika Anda adalah korban pelecehan, langkah pertama yang harus di lakukan adalah dengan membiarkan pihak yang bersalah tahu bahwa Anda menemukan perilaku mereka sebagai perilaku ofensif. Dalam banyak kasus ini dapat menyelesaikan masalah. Jika hal ini tidak menyelesaikan masalah, setidaknya pelaku tau bahwa Anda merasa perilakunya sangat menganggu.

2. Memberi Tahu Pelaku Untuk Berhenti

Anda dapat mencoba untuk memberitahu pelaku untuk berhenti, meskipun hal ini mungkin sulit bagi Anda, Katakan dengan jelas bahwa Anda ingin pelaku berhenti melakukan pelecehan seksual kepada Anda. Ini juga langkah yang sangat penting jika Anda kemudian memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih formal kepada peleceh.

Jika pelaku mnegabaikan permintaan lisan Anda untuk berhenti, atau jika Anda merasa tidak nyaman untuk bertatap muka dengan pelaku, tulislah surat singkat yang menyatakan bahwa perilaku mereka menyinggung Anda. Jika Anda khawatir akan keselamatan pribadi atau takut bahwa pelaku akan berperilaku tambah parah, maka laporkan ke atasan Anda segera.

3. Mencari Kebijakan

Periksa buku pedoman karyawan, kebijakan tertulis, dan sebagainya yang mencantumkan kebijakan pelecehan seksual. Kemudian ikuti langkah-langkah yang tertera dalam kebijakan. Selanjutnya, laporkan kepada orang yang di tunjuk sebagai atasan Anda untuk menerima pengaduan pelecehan seksual. Jika mereka tidak memperbaikinya, atau jika orang yang ditunjuk adalah pelaku pelecehan, maka pergilah ke orang berikutnya yang ditunjuk.

4. Menuliskannya

Bahkan jika kebijakan mengatakan untuk menelepon atau bertemu dengan seseorang, selalu tempatkan keluhan Anda secara tertulis. Deskripsikan secara detil mengenai komentar seksual, tindakan seksual, pornografi, lelucon atau email tidak pantas, dan apapun yang di alami atau di saksikan oleh Anda, yang memperlihatkan adanya perbedaan perlakuan dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Banyak pegawai yang melaporkan lingkungan yang tidak bersahabat, intimidasi atau pelecehan tanpa mengatakan bahwa hal itu di dasari oleh gender. Dengan cara pelaporan seperti itu, Anda tidak akan terlindungi dari pembalasan dendam. Jadi, cara yang terbaik adalah menuliskannya dengan detail.

5. Mendokumentasikan Perilaku Pelecehan

Sangat penting untuk mendokumentasikan apa yang terjadi pada Anda, dan apa yang Anda lakukan untuk mencoba menghentikannya. Anda harus memiliki bukti yang cukup untuk dapat melaporkannya ke penyidik perusahaan, instansi pemerintah, atau pengadilan. Mulailah dengan mengumpulkan bukti sedetail mungkin mengenai pelecehan. Pastikan untuk menyimpan surat, foto, kartu, atau pesan melecehkan yang Anda terima.

6. Memproses Ke Pengadilan

Jika lembaga pemerintah mengeluarkan surat hak untuk menuntut, Anda dapat membawa gugatan perdata atas cedera yang Anda derita akibat pelecehan seksual. Anda tidak perlu menunjukkan luka fisik. Cedera yang paling umum dalam kasus pelecehan seksual adalah luka secara emosional yang di derita oleh korban.

Terus Bagaimana Cara Mengatasi Trauma Kekerasan Seksual?

Di lain waktu Anda merasakan ketakutan, putus asa, bahkan sampai ingin bunuh diri ketika teringat kembali akan trauma itu, segeralah lakukan salah satu hal di bawah ini untuk mengalihkan perhatian Anda. Dengan begitu, Anda bisa kembali bangkit untuk memulai proses penyembuhan yang optimal.

1. Jangan ragu untuk menghindari situasi mengancam

Menghindar di sini artinya bukan sama sekali mengurung diri dari lingkungan sosial Anda. Menjauhkan diri dari orang terdekat malah dapat menyebabkan Anda sering sendirian, dan cenderung mengingat kembali apa yang membuat Anda trauma. Namun kadang memang beberapa tempat, lokasi, gedung, area, kegiatan, bahkan perawakan fisik orang tertentu dapat memicu kilas balik ingatan Anda akan kejadian naas tersebut.

Tubuh Anda sejatinya mampu mengingat segala kejadian yang di alaminya, dan dapat merespon setiap situasi secara spontan. Itu sebabnya dalam situasi terancam, tubuh Anda akan memberikan sinyal tanda bahaya, misalnya rasa tegang, menahan napas, bulu kuduk merinding, pikiran yang kacau, berkeringat dingin, sakit perut, bahkan hingga pusing dan mual. Jika Anda kebetulan berada di situasi ini, tidak apa untuk segera menghindar untuk sementara dan cari tempat yang lebih aman.

Beri waktu terhadap diri Anda untuk menenangkan diri dan yakinkan diri bahwa dia sudah aman. Anda bisa memusatkan fokus hanya pada satu hal, misalnya memandang awan-awan di langit atau memandangi batu, menghitung mundur 100 sampai 1, merobek-robek kertas jadi serpihan kecil, memencet bubble wrap, berlatih teknik pernapasan, meditasi, atau bermain games di ponsel.

2. Ngobrol (Berbicara)

Setelah mengalami pelecehan seksual, kebanyakan korban merasa minder dan sulit mempercayai orang lain. Namun, mengurung diri di kamar bukanlah hal yang tepat. Sebisa mungkin, jangan biarkan Anda sendirian.

Tetaplah bersama orang lain, entah itu orangtua, kakak atau adik, hingga teman dekat. Alihkan pikiran Anda dengan mengobrol (tidak harus tentang pelecehan yang Anda alami, jika Anda belum siap untuk blak-blakan Anda bicarakan apapun sesuka hati Anda).

Cukuplah bersenang-senang dan tertawa bersama orang-orang yang Anda cintai atau pada anggota keluarga. Ini dapat membantu Anda memulihkan perasaan sedih yang di alami sekaligus mengingatkan bahwa Anda masih memiliki orang yang mencintai dan menghargai Anda.

3. Menangis

Menangis saat Anda stres merupakan salah satu cara terbaik untuk menyalurkan stres Anda dan memberikan Anda perasaan lega. Saat Anda menangis karena stres, sebenarnya tubuh juga sedang melepaskan hormon stres atau racun dari tubuh melalui air mata yang menetes. Itu sebabnya menangis dapat memperbaiki suasana hati Anda. Penelitian dari University of South Florida tahun 2008 membuktikan bahwa menangis bekerja lebih baik untuk menenangkan diri dan meningkatkan suasana hati Anda daripada obat antidepresan apapun.

4. Siapkan “Kotak Darurat”

Siapkan sebuah kotak atau tas dan isi dengan barang-barang yang bisa Anda gunakan untuk mengalihkan perhatian saat Anda terjebak dalam kilas balik trauma atau memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Kotak itu harus mencakup hal-hal yang membutuhkan konsentrasi, namun yang tetap bisa Anda nikmati dan yang aman (tidak bisa dipakai untuk melukai).

Isinya bisa termasuk buku mewarnai, peralatan merajut atau untuk membuat gelang, puzzle, balok-balok Lego atau rubiks, buku TTS, buku cerita favorit, kertas dan krayon, stress ball, video game, plastisin mainan, cat kuku warna-warni, balon karet untuk ditiup, hingga mainan favorit apapun yang bisa membuat Anda merasa nyaman dan “kabur” sejenak dari realita.

Jangan lupa juga untuk membawa beberapa barang ini bersama Anda ketika beraktivitas di luar. Mengalihkan perhatian kepada hal positif saat Anda sendirian sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah trauma datang kembali.

5. Tuliskan atau gambarkan keluh kesah Anda

Menulis jurnal dapat menjadi cara yang sangat membantu untuk membenahi emosi Anda setelah mengalami kekerasan seksual. Tulis juga berbagai alasan “Kenapa aku mencintai diriku sendiri” atau kebahagiaan atau keberuntungan yang selama ini pernah Anda alami untuk disimpan dan dibaca ulang saat Anda merasa sedang down.

Jika Anda malu untuk menumpahkan isi hati Anda dengan kata-kata, Anda bisa mulai dengan mencoret-coret gambar acak di secarik kertas. Jika Anda lebih bisa meluapkan curahan hati dengan menulis lirik lagu atau bait-bait puisi, juga tidak masalah. Yang penting adalah Anda bisa lebih mengenal dan memahami setiap gejolak emosi Anda. Ini dapat membantu Anda lebih sadar akan apa yang bisa menyebabkan trauma datang kembali sehingga Anda bisa mencegahnya di lain waktu.

Buat kalian para orang tua, mulai dari sekarang tolong jaga anak Anda baik-baik. Karena banyak diluaran sana akan melakukan tindakan-tindakan seperti pelecehan dan kekerasan seksual terhadap siapapun.